|
Dinamika Paroki -
Artikel
|
|
Friday, 03 September 2010 |
|
|
Hati hati Pastor “Palsu” Berkah Dalem, Kejadian berikut terjadi pada hari Sabtu dan Minggu kemarin, 28-29 Agustus di sekitar Pekalongan. Kejadian ini belum sampai pada kejadian yang meresahkan melainkan mengundang tanda tanya. Berawal dari kisah seorang umat, yang sepulang dari ekaristi sabtu sore disapa oleh orang berbadan sedang dan putih yang memberikan salam hati-hati. Lalu ibu yang menuruni tangga gereja tersebut ditemui oleh orang lain, yang lebih hitam dan mengenakan ali-ali/ cincin banyak dan menyapa ada apa. Lalu ibu menjawab ada orang yang bilang hati-hati. Orang ini kemudian menyebut orang yang putih adalah seorang imam dari ganjuran yang bisa menyembuhkan dan memberkati. Namun sang ibu agak ragu. Lalu datang pria yang kulitnya agak putih tadi dan memperkenalkan diri memang sebagai imam yang bernama LUKAS. lantas sang ibu bilang kalau imam yang tolong berkati. Sambil menunggu agak sepi gereja, mereka bertiga berdoa di dalam gereja lalu memberkati ibu dan bapak yang lebih hitam tadi. akhirnya obrol punya obrol berkehendak untuk mendoakan ibu selanjutnya tetapi meminta agar dapat berjumpa di rumahnya. alamat lantas di berikan, meminta no hp sang ibu tidak memberikan karena tidak punya, lalu meminta no telp rumah dan berjanji keesokan harinya akan menghubungi lagi. |
|
|
|
Lonceng Katedral -
Pengumuman
|
|
Sunday, 29 August 2010 |
|
|
PENGUMUMAN Kursus Persiapan Perkawinan Atau Pendampingan Persiapan Hidup Berkeluarga (PPHB) Yang sedianya akan dilaksanakan tanggal 24 – 26 September 2010 DIUNDUR Tanggal 1-3 Oktober 2010 |
|
|
|
Dinamika Paroki -
Artikel
|
|
Sunday, 29 August 2010 |
|
|
Hajat-an
0. Beberapa orang-muda, berbincang-bincang tentang korek-api yang canggih, di cakruk, pinggir jalan. Seorang muda pinjam, tapi tak bisa nyalakan. Cara menyapa rekannya, pakai kata-kata sbb: - 'Piye kiye, jare canggih, kok ora bisa ngetokna geni ?.' + 'Ngene lho tho, carane'. Lalu dicontohi nyalakan korek. Jres, keluar api. - Tanggapan kawannya, 'O ngono kuwi ta Su. Jebule gampang ya. Bareng teyeng....'. Tho, kependekan dari 'gentho'. Su, kependekan dari asu. Terjadilah komunikasi antar manusia, model binatang. 1. Kitab Suci minggu ini, mengungkap bagaimana orang biasa pilih posisi duduk. Biasanya, orang pilih yang nyaman. Nyaman, artinya bisa berbeda-beda. Ada yang senang di bagian muka, karena merasa terhormat. Ada pula yang 'sembunyi' di bagian-bagian paling belakang.
|
|
|
|
Lonceng Katedral -
Pengumuman
|
|
Sunday, 29 August 2010 |
|
|
Seri Tahun Keprihatinan Pertanian HIDUP SELARAS DENGAN ALAM Oleh : G.H. Sumartono Lagi-lagi bila kita membaca dari Kitab Kejadian, ternyata semua yang diciptakan Allah itu baik adanya, dan pasti ada manfaatnya bagi manusia. Hidup di alam adalah bentuk keharmonisan dan keseimbangan, antara alam dan seluruh mahluk hidup ciptaan Tuhan. Namun sayang sampai saat ini masih banyak rahasia hidup yang tidak diketahui dan bahkan manusia tidak ingin tahu. Banyak tumbuhan dan hewan yang dianggap tidak bermanfaat, lalu dimusnahkan, padahal Allah menciptakan mahluk hidup itu pasti ada maksudnya. Begitu juga dengan kondisi alam yang ada, seringkali menjadi rahasia yang tidak terpecahkan. Kalau saat ini kita dihadapkan pada pembicaraan yang aktual mengenai adanya perubahan musim, apakah ini bukan disebabkan karena perilaku kita manusia penghuni planet bumi ini, yang hanya ingin enaknya, sehingga berakibat keseimbangan alam terganggu ? Kalau ini dibiarkan dan tidak disadari, maka dunia yang kita diami akan semakin tidak memberikan kenyamanan. |
|
|
|
Lonceng Katedral -
Pengumuman
|
|
Monday, 23 August 2010 |
|
|
Refleksi 65 Tahun Kemerdekaan RI KEMERDEKAAN YANG HAKIKI Oleh : G.H. Sumartono Dalam Undang-Undang Dasar Negara kita tercantum kata-kata, berkat rahmat Tuhan, maka dengan ini dinyatakan kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan merupakan rahmat dan anugerah Tuhan. Sebenarnya sejak lahir, manusia pada hakekatnya sudah merdeka dan bebas. Tuhan menganugerahkan kepada manusia untuk hidup merkeda bebas dari cengkeraman ketakutan, bebas menentukan pilihan, dan secara bebas pula dapat memanfaatkan segala yang ada di bumi sebagai anugerah-Nya yang agung. Ketidakbebasan yang ada sebenarnya ditentukan oleh manusia itu sendiri yaitu ingin saling berkuasa, ingin menindas, ingin menunjukkan eksistensinya. Jadi kalau sampai saat ini kita sudah mengalami kemerdekaan dari penjajah Belanda dan Jepang (katanya), apakah benar kata-kata indah dan keramat itu sungguh sudah dirasakan oleh kita. Kalau sampai saat ini masih ada orang ketakutan beribadah, ketidakbebasan orang menjalankan ibadat, bahkan tidak diperkenankan untuk mendirikan rumah ibadat, apakah itu bukan bentuk pembelengguan kebebasan model baru ? Dalam hidup sosial kemasyarakatan kita, kebebasan, bukanlah bentuk kemerdekaan yang mutlak, karena kita juga harus menerapkan moral, etika, tradisi, yang semuanya ditentukan dengan hak dan kewajiban, aturan dan hukum. Tetapi sekurang-kurangnya, kita sebagai umat manusia yang diciptakan oleh Allah sempurna adanya dan sesuai dengan citra-Nya, semuanya sama dihadapan Tuhan, yaitu merasakan kebersamaan hidup yang semakin damai dan tenteram. Rupa-rupanya harapan kita ini masih jauh dari kenyataan hidup di negara Indonesia tercinta ini. Kita masih melihat adanya penyegelan sepihak rumah ibadat, perusakan rumah ibadat, intimidasi kebebasan beribadat, tempat ziarah dirusak. Inilah bentuk penjajahan masa kini yang dialami oleh kita. |
|
|
|
|